Home Artikel Habibie dan Pembelajaran TEFA

Habibie dan Pembelajaran TEFA

276
0
Ilustrasi BJ Habibie, Sumber: Denny Putra/detikcom

BERPULANGNYA B.J. Habibie menyisakan luka mendalam bagi negeri ini. Penemu pesawat terbang itu telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa maupun dunia dalam industri penerbangan. Sebagai teknokrat negeri, patutlah kita meneruskan kiprah Habibie di dunia industri yang semakin berkembang ini.

Saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0. Beragam inovasi yang ada di negeri ini tentunya lahir berkat pendidikan formal maupun nonformal. Revolusi Industri 4.0 di Indonesia, pendidikan menjadi kebutuhan yang mutlak dan memiliki peranan signifikan. Sistem pendidikan di Indonesia memiliki pengaruh besar bagi pasar dunia. Pendidikan formal di sekolah menjadi ujung tombak perkembangan dunia industri milenial. Tanpa pendidikan, negeri ini tidak mampu menciptakan inovasi kompetitif.

Terdapat banyak sekolah di Pulau Jawa berkualitas pendidikan mumpuni dan mampu bersaing di bidang teknologi. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), penyematan nama kota pelajar dikarenakan Yogyakarta memiliki kualitas sumber daya manusia yang pembelajar.

Adanya revolusi industri, pendidikan nusantara ini dituntut untuk terus melakukan inovasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Era Revolusi Industri 4.0 ini merupakan tantangan bagi para pengajar. Dunia pendidikan dituntut membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif.

Kembali ke Model TEFA

Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang notabenenya pemasok tenaga kerja dituntut menghasilkan tamatan berkualitas sehingga mampu menciptakan inovasi terbaru bagi dunia industri. Pembelajaran di kelas yang semula didominasi pengetahuan harus dialihkan menjadi pembelajaran dengan cara mengoptimalkan penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan.

Guna mengoptimalkan teknologi, tidak hanya peserta didik yang dituntut memiliki kreatifitas tetapi pengajar juga dituntut memiliki kreatifitas dalam mempersiapkan bahan ajar yang nantinya akan diterapkan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dipersiapkan dengan tujuan peserta didik siap memasuki dunia kerja.

Model pembelajaran Teaching Factory (TEFA) di SMK dinilai tepat menjawab tantangan industri 4.0. Desain pembelajaran TEFA dilakukan dengan memadukan sepenuhnya antara belajar dan bekerja sehingga suasana pembelajaran di kelas tampak seperti di industri senyatanya. Peserta didik tidak hanya dibekali pengetahuan teori dan praktik, juga dibekali ilmu untuk dapat memproduksi barang dan jasa yang mengacu pada standar maupun prosedur di dunia industri.

Guna menunjang kegiatan pembelajaran berbasis TEFA, SMK melakukan kerja sama dengan menggandeng Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) sesuai dengan kompetensi keahlian yang ada di sekolah.

Meneruskan Langkah Habibie

Pemantapan pembelajaran dilakukan melalui Praktik Kerja Industri (Prakerin) untuk saling melengkapi dalam meraih keuntungan bersama. Dengan tantangan Industri 4.0 ini, sekolah yang masuk dalam kategori sekolah marjinal pun harus mampu membuktikannya dengan mencetak lulusan yang berkualitas. juga membekali peserta didik menjadi wirausahawan yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya maupun orang lain.

*) Guru SMK Ma’arif Semanu. Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di Harian Jogja, edisi 3.961 (Jumat Pon, 20 September 2019) pada rubrik Aspirasi halaman 4.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here