Home Sekolah Isra’ Mi’raj, Momentum Meneladani Nabi Muhammad SAW

Isra’ Mi’raj, Momentum Meneladani Nabi Muhammad SAW

446
1

Maarifnudiy.or.id–SDNU Sleman Yogyakarta memperingati Isra Miraj dengan menghadirkan Pengasuh Ponpes Assalafiyah Mlangi, Gus Irwan Masduqi, Lc., M.Hum.

Dalam ceramahnya, Gus Irwan mengajak guru, karyawan dan komite merenungkan bahwa saat ini kita percaya dan mengakui kecepatan tinggi pesawat jet. Sementara saat itu, kendaraan yang biasa dipakai adalah kuda dan unta. Ketika Rasulullah melakukan perjalanan dari Mekkah ke Pales­tina (Mas­jidil Haram ke Mas­jidil Aq­sha) dalam waktu yang sangat pendek. Ber­da­sarkan peta bumi, jarak jauh­nya kota Mekkah ke Palestina adalah 1500 kilometer. Biasanya membutuhkan waktu satu bulan untuk satu kali jalan. Juga, sangat mustahil manusia bisa bepergian ke luar bumi, apalagi ke alam yang tidak dihuni manusia seperti Sidratul Muntaha yang berada di langit ke tujuh. Ketika Isra Mi’raj, Nabi Muhammad SAW difasilitasi Allah sebuah kendaraan canggih bernama Buroq.

Mengahiri ceramahnya, Gus Irwan menjelaskan, Nabi pernah mengalami kesedihan yang sangat memukul hati dan menggoncang jiwanya, yaitu ketika ditinggal isterinya Khadijah serta ditinggal wafat paman beliau, yaitu Abu Thalib. Keduanya wafat dan para shahabat prihatin dalam kejadian ini. Kira-kira 2,5 tahun dari kejadian ammal huzni tersebut,  Nabi di Isra’ Mi’rajkan oleh Allah dalam rangka menghibur Nabi dan menerima beberapa wahyu dari Allah.

Peringatan ini semakin seru dengan hadirnya kreativitas penampilan grup hadroh guru SDNU Sleman Yogyakarta. Selain itu, acara tambah meriah dengan dibagikannya hadiah untuk anak-anak yang sebelumnya mengikuti lomba dalam rangka Peringatan Isra’ Mi’raj SDNU Sleman Yogyakarta.

Kepala SDNU Sleman Yogyakarta, Isnaeni Marzuqi, sangat mengapresiasi agenda yang sudah terselenggara dengan baik ini. “Kegiatan ini sangat baik dalam membiasakan meneladani sifat Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Acara ditutup dengan penampilan tim hadroh Guru Karyawan SDNU Sleman dengan membacakan maulid simtuduror. (*)

Previous articleSMK Ma’arif Ngawen dan Yamaha Bekerja Sama untuk Pendidikan Siswa SMK
Next articleLP Ma’arif NU DIY Siapkan Siswa Hadapi Ajang Kompetisi Sains Internasional
Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SDNU Sleman

1 COMMENT

  1. ISRAA’ MI’RAJ : PERISTIWA RITUAL-SPIRITUAL SEKALIGUS BERMAKNA SOSIAL-POLITIK

    Mengenang 1400 tahun (621-2021) Peristiwa Israa’ Mi’raj berdasar perhitungan Masehi / Milaadiyyah.
    Oleh : Indra Ganie al-Hindi al-Bantani

    “Maha Suci Allaah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari al-Masjidil Haraam ke al-Masjidil Aqshaa yang telah Kami berkahi sekelilingnya aga Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
    (QS al-Israa’ ayat 1)

    Pada tahun ini adalah moment tepat mengenang Peristiwa Israa’ Mi’raj mengingat tepat saat ini sudah 1400 tahun berlalu, sekaligus tulisan ini dibuat pada bulan Rajab. Kaum Muslim tentu sudah akrab bahwa, Peristiwa Israa’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab.

    Telah berlalu hingga ribuan tahun peristiwa tersebut dikenang dengan berbagai bentuk : ada yang berbentuk peringatan, ada yang berbentuk perayaan dan ada yang tidak melaksanakan keduanya. Pada sejumlah negeri mayoritas penduduk Muslim, peristiwa itu dikenang dengan kegiatan tertentu, terlepas dari dalil syar’i yang mendasari amalan tersebut. Penulis tidak bermaksud masuk dalam ruang perdebatan tersebut. Itu masalah khilafiyyah atau furu’iyyah yang akan selalu ada hingga akhir zaman.

    Di Indonesia, sebagaimana dengan peringatan peristiwa keagamaan lainnya semisal Maulid Nabi dan Nuzulul Qur-an, biasanya acara mengenang Israa’ Mi’raj berisi pembacaan sejumlah ayat al-Qur-an, pembacaan terjemahannya, ceramah dan ditutup dengan doa oleh yang hadir. Terkadang dirangkai dengan acara bakti sosial semisal khitanan massal atau santunan kepada anak yatim piatu.

    Dalam tulisan ini pembaca mencoba fokus pada materi ceramah terkait Isra’ Mi’raj, penulis memiliki kesan bahwa isi ceramah terkait Israa’ Mi’raj cenderung begitu-begitu saja atau dangkal : berputar-putar pada kisahnya itu sendiri dan ujung-ujungnya adalah uraian perintah shalat 5 waktu. Seakan Israa’ Mi’raj adalah murni peristiwa ritual-spiritual yang harus difahami secara ritual-spiritual pula. Tidak lebih. Sangat jarang yang mengangkat aspek selain itu padahal ada. Penulis menilai ada 2 kemungkinan para penceramah besikap demikian : tidak tahu atau tidak berani.

    Memang Peristiwa Israa’ Mi’raj adalah peristiwa ritual-spiritual, namun sebagaimana aspek atau praktek semua ritual-spiritual dalam ajaran Islam semisal shalat atau puasa, ada nilai-nilai sosial yang dituntut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Semua ajaran ritual-spiritual dalam Islam memiliki aspek sosial termasuk politik. Dalam shalat misalnya, praktek ritual-spiritual paling dasar pun dalam Islam ternyata memiliki nilai-nilai sosial semisal disiplin tepat waktu, tepat janji, patuh kepada pemimpin – jika / dalam shalat berjama’ah. Pendidikan dasar mengatur masyarakat atau negara ternyata ada dalam shalat. Ini contoh sederhana saja.

    Islam tidak memisahkan antara dunia dengan akhirat, jasmani dengan ruhani, syari’at dengan hakikat, material dengan spiritual, ritual dengan sosial. Kesemuanya harus seimbang.

    Kembali kepada Israa’ Mi’raj, penulis melihat ada aspek sosial-politik dibalik peristiwa ritual-spiritual tersebut.

    1. Peristiwa Rasulullaah SAAW menjadi imam shalat bersama ruh para nabi sebelum beliau di kompleks yang disebut dalam al-Qur-an Surah al-Isra’ ayat 1 dengan sebutan Masjid al-Aqshaa. Pertama perlu diketahui bahwa, apa yang disebut dengan Masjid al-Aqshaa tidaklah berbentuk bangunan sebagaimana disaksikan sekarang. Bangunan yang kini disebut Masjid al-Aqshaa ada sejak tahun 691, bangunan tersebut ada pada perioda Kerajaan Ummayah. Artinya bertahun-tahun setelah Israa’ Mi’raj. Ketika Israa’ Mi’raj, pengertian Masjid al-Aqshaa dalam QS al-Isra’ ayat 1 adalah tanah lapang di bagian kota tua Yerussalem – yang kini dikenal dengan sebutan Haraam al-Syariif. Bagian kota tua ada di sisi timur, adapun bagian kota modern ada di sisi barat.

    Peristiwa Rasulullaah SAAW mengimami shalat bersama ruh para nabi mengandung makna bahwa, misi mewujudkan tatanan global berdasar tauhid / monoteisme diserahkan kepada Nabi Muhammad SAAW dan umatnya – yaitu umat Islam. Yang dipilih Allaah sebagai nabi terakhir dan umat terakhir. Selama ribuan tahun tatanan dunia didominasi oleh faham syirik beserta praktek takhyul, bid’ah dan khurafat. Para umat nabi sebelum umat Islam dinilai tidak amanah lagi melaksanakan misi tauhid tersebut. Bahkan mereka justru tenggelam atau tercemar dalam faham dan praktek syirik, takhyul, bid’ah dan khurafat. Mengubah isi kitab suci mereka sesuai dengan selera mereka setelah para nabi mereka wafat. Karena itu kepemimpinan tauhid dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAAW dan umat Islam. Allaah telah memilih bahwa kitab suci Islam yaitu al-Qur-an tetap terjaga keasliannya dan agama yang dibawa oleh Rasulullaah SAAW adalah agama universal, berlaku untuk segala ruang, waktu dan orang. Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAAW.

    Kaum Muslim generasi awal telah sukses melaksanakan misi tersebut, mereka meletakkan dasar supremasi Islam yang kelak bertahan selama sekitar 1000 tahun. Dalam perioda tersebut kaum Muslim menguasai sekitar separuh dunia beradab yang ketika itu mencakup sebagian besar wilayah di Asia, Afrika dan Eropa. Ketika itu benua yang kelak disebut Amerika masih misteri. Bahkan tersebut riwayat bahwa kaum Muslim telah sampai ke benua Amerika jauh sebelum orang Eropa menemukannya. Mereka sempat mengislamkan penduduk pribumi di benua tersebut – yang kelak diberi istilah keliru yaitu “Indian” (orang India). Istilah tersebut diberi oleh Christophorus Colombus yang berniat ke India namun tidak sampai. Kemudian pribumi di situ seenaknya diberi istilah Indian. Dia menyangka telah sampai ke India padahal bukan. Dan ternyata Colombus belum tiba di benua tersebut, namun hanya sampai di wilayah Kepulauan Karibia. Ada kemungkinan nama Karibia berasal dari bahasa Arab.

    Kini, kaum Muslim harus kembali mengingat tugasnya melaksanakan misi tauhid sedunia. Jangan sampai kelamaan bernasib terpuruk sebagaimana sekarang : menjadi bahan mainan, pelecehan, penghinaan umat lain. Nasib jelek begini sudah berlangsung sekitar 200 tahun kemari.

    2. Pemilihan Masjid al-Aqshaa sebagai titik keberangkatan menuju tempat tinggi (mi’raj), yaitu alam spiritual yang paling sakral – yang dikenal dengan nama “Sidratul Muntaha”. Alam paling sakral di semesta ini yang bahkan para malaikat pun tidak diizinkan masuk. Nabi Muhammad lah satu-satunya makhluk yang diizinkan masuk. Langsung melihat Allaah dengan segenap jiwa raganya. Peristiwa ini memiliki makna bahwa, kaum Muslim – yang waktu itu hanya ada di Arabia – harus tahu ada tempat suci di luar negeri mereka. Di luar Arabia. Bukan hanya Masjid al-Haraam di Makkah, bukan hanya Masjid Nabawiy di Madinah – yang dibangun setelah Israa’ Mi’raj, setelah Rasulullaah SAAW hijrah. Tempat suci yang juga harus dijaga sebaik-baiknya yaitu Palestina. Di negeri tersebut ada kota Yerussalem (Arab : Bayt al-Maqdis / al-Quddus al-Syariif / Ursyaliim. Israel / Ibrani : Yerusyyalahim). Kota suci bagi kaum Yahudi, Kristiani dan Muslim. Sekaligus mengingatkan kaum Muslim awal bahwa, mereka tidak sendiri. Kaum Muslim lebih layak menguasai Palestina karena mereka dibebani kewajiban menjaga situs keramat agama lain – yang nota bene adalah agama serumpun – yaitu Yahudi dan Kristiani. Ketiga agama tersebut termasuk agama rumpun Semit(ik) (Arab : Samiyyah) atau rumpun Abraham(ik) (Arab : Ibrahiimiyyah. Israel / Ibrani : Avraham). Selain harus beriman kepada Nabi Muhammad SAAW dan al-Qur-an, mereka juga dituntut beriman kepada Nabi Muusa AS dan kitab Taurat serta Nabi ‘Isa al-Masih AS dan kitab Injil sebagai kitab yang aslinya berasal dari wahyu Allaah. Secara menyeluruh, selama kaum Muslim menguasai Palestina, berbagai situs agama serumpun tersebut terjaga dengan baik. Kaum Yahudi, Kristiani dan Muslim juga secara menyeluruh hidup bersama dengan damai. Harmoni tersebut memang sempat terganggu oleh perang salib yang dikobarkan oleh Kristiani Eropa. Perang yang dilancarkan oleh imperialis-kolonialis Barat tersebut terbentang dari Iberia hingga Levant dalam rangka merebut kembali wilayah tersebut dari kaum Muslim.

    Sejak tahun 1917, Palestina kembali terlepas dari kaum Muslim sebagai akibat kekalahan Turki ‘Utsmaniyyah terhadap Sekutu dalam Perang Dunia-1. Secara berangsur kaum Muslim makin berkurang jumlahnya dan situs-situs keramat Islam diganggu dan ada juga yang lenyap. Sejak menguasai Kota Tua Yerussalem, kaum zionis berusaha melenyapkan situs Islam di Yerussalem – terutama bangunan yang dikenal dengan Masjid al-Aqsha. Di kota Hebron (Arab : al-Khaliil), Masjid Ibrahiim al-Khaliil telah dicaplok oleh kaum zionis seluas 2/3 untuk menjadi sinagoga. Yang masih tersisa sebagai masjid hanya 1/3. Dalam masjid tersebut terdapat makam Nabi Ibrahiim AS, Nabi Is-haq AS dan Nabi Ya’qub AS beserta istri masing-masing. Ketika kaum salibis menguasai Palestina, komplek al-Aqsha dijadikan gereja dan istana para penguasa Eropa. Dari penuturan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa, segala situs sakral ketiga agama serumpun di Pelestina akan terlindungi jika di bawah kuasa kaum Muslim.

    Nah, dari penjelasan tersebut di atas, apakah kaum Muslim harus / layak pesimis? Dalam al-Qur-an jelas ada larangan pesimis. Pada sejumlah ayat, Allaah telah berjanji akan menolong kaum Muslim jika syarat-syaratnya terpenuhi. Penulis kutip sejumlah ayat tersebut dari “Al-Qur-an Dan Terjemahnya”. Hasil kerja sama antara Republik Indonesia dan Arab Saudi.

    1. QS al-Anbiyaa’ ayat 105-107 :
    “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabuur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh al-Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allaah). Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.

    Jelas syarat dalam ayat tersebut di atas, untuk layak menguasai bumi ini adalah amal saleh.

    2. QS an-Nuur ayat 55 :
    “Dan Allaah telah berjanji kepada orang-orng yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhaiNya untuk mereka, akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik”.

    Jelas syarat dalam ayat tersebut di atas, untuk layak menguasai bumi ini adalah iman kepada Allaah dan dbuktikan dengan amal saleh.

    Demikian uraian sederhana dari penulis terkait dengan mengenang Israa’ Mi’raj. Semoga upaya sederhana ini tercatat sebagai amal saleh bagi penulis sekaligus bemanfaat besar bagi umat. Aamiin yaa Allaah.

    Tangerang Selatan – Banten, 27 Februari 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here