Home Keaswajaan Jelang Hari Santri Nasional, LP Ma’arif NU DIY Memperdalam Keaswajaan

Jelang Hari Santri Nasional, LP Ma’arif NU DIY Memperdalam Keaswajaan

5
0

Wilayah – Sedikitnya 150 peserta memadati Aula PWNU DIY, Ahad Wage (06/10/2019). Acara pengajian dalam rangka memperdalam ke-NU-an itu dimulai pada pukul 09.00 WIB dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathon. Ketua Pondok Pesantren Lintang Songo, Heri Kusnanto, memimpin Amaliyah Tahlil.

Ketua Pondok Pesantren Lintang Songo, Heri Kusnanto, memimpin Amaliyah Tahlil

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, H. Fahmy Akbar Idries, S.E. menyampaikan beberapa informasi terkait pelaksanaan Hari Santri Nasional 2019.

“Sebentar lagi akan memasuki suasana Hari Santri Nasional, kami mohon kepada seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan acara tersebut dengan berbagai cara.” jelas Pembina LP Ma’arif NU PWNU DIY itu.

Sambutan Pembina Lembaga Pendidikan Ma’arif NU DIY, H. Fahmy Akbar Idries, M.M.

Serangkaian acara peringatan Hari Santri Nasional tengah dipersiapkan oleh panitia. Fahmy mengungkapkan bahwa Senin, 7 Oktober akan dilakukan pembukaan Liga Santri 2019 di Lapangan Sultan Agung, Bantul. Selanjutnya, 13 Oktober akan diselenggarakan Grebeg Santri di Malioboro seperti tahun sebelumnya dengan melibatkan 40 pesantren di Yogyakarta.

Pengibaran bendera merah putih dan NU serta pemasangan banner HSN di kantor dan titik tertentu akan dilaksanakan sejak Senin, 21 Oktober. Puncaknya pada tanggal 22 akan dilakukan iklan bersama di media massa.

“Tema Hari Santri 2019 ini adalah Santri Nyawiji, Indonesia Gumregah. Satu hari sebelumnya kita berharap semua elemen, dari wilayah sampai ranting untuk melakukan istighosah dan tahlilan. Dan percayalah seperti yang dikatakan Kyai Heri tadi, NU itu sampai mati akan tetap didoakan, yang sudah mati dan masih hidup semua didoakan,” tegas Fahmy.

Pendalaman ke-NU-an disampaikan oleh K.H. Asyhari Abta mengenai tawaduk ala NU. Penjelasan beliau diawali dengan bacaan tahlil dilanjutkan penjelasan makna yang terdapat dalam bacaan tahlil tersebut.

“Kita orang-orang NU tetap bertahan dengan panggilan sayyidina, padahal Rasulullah sendiri tidak ingin dipanggil sayyidina. Kalau golongan tekstual, pasti tidak memanggil sayyidina, karena Rasululllah melarang. Tetapi kita memahami hal ini sebagai bentuk tawaduk, rendah hati, andhap asor. Ulama memahami bahwa menjaga etika lebih baik daripada melaksanakan perintah. Maka dari itu, orang NU memanggil Rasulullah dengan embel-embel yang panjang,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu.

Sesi seneng takon dimoderatori MC Seneng Takon, Miko Cakcoy Pathoknegoro

Pada sesi “Seneng Takon” yang dimoderatori oleh MC Seneng Takon, Miko Cakcoy Pathoknegoro, K.H. Abdullah Hasan menyampaikan bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi perbedaan tidak boleh menjadi pertikaian. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa NU harus terus memberikan pencerahan atas perbedaan yang terjadi di masyarakat melalui berbagai cara, salah satunya melalui pesantren. “Santri harus melek terhadap tantangan yang ada, tidak boleh menutup diri. Santri harus memahami dinamika dalam masyakarat, merespon dan menjadi obor yang tidak membakar, santri harus banyak membaca” jelas Katib Syuriah PWNU DIY itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here