Home Wilayah Guru Perlu Pahami Lima Landasan Filsafat Kerja

Guru Perlu Pahami Lima Landasan Filsafat Kerja

601
0
Suasana serah-terima guru oleh PW Ma'arif NU DI Yogyakarta, Sabtu (14/7/2018).

Yogyakarta, Maarifdiy.or.id–Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Tujuannya, agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Sugiyono dalam pembekalan guru baru di lingkungan LP Ma’arif DI Yogyakarta, Sabtu (14/7/2018) lalu.

Agar guru dapat mewujudkan suasana belajar yang baik, seorang guru perlu memahami landasan filsafat kerja guru seperti yang disampaikan oleh Sosro Kartono, kakak R.A. Kartini. Wartawan luar negeri pertama Indonesia ini menyampaikan lima landasan filsafat kerja guru.

Pertama, guru itu sugih tanpa bandha. Sugiyono menjelaskan, sugih tanpa bandha maksudnya supaya guru itu lebih mengutamakan memiliki ilmu. Dengan memiliki ilmu berarti mengarah kepada kompetensi profesional karena guru harus menyampaikan materi sesuai dengan kompetensi yang ditargetkan. Dengan memiliki ilmu, menurut Sugiyono, mudah-mudahan bandhanya juga datang.

Kedua, digdaya tanpa aji-aji. Maksudnya, guru itu orang yang perkasa tetapi tanpa senjata. Guru besar FT UNY itu mencontohkan, waktu Jepang kalah perang, kaisarnya menanyakan jumlah guru yang tersisa di Jepang, bukan tentara yang ditanyakan. Seorang guru berkontribusi besar dalam pembangunan bangsa.

Ketiga, ngeluruk tanpa bala. Maksudnya, guru itu kalau berperang tidak keroyokan. Guru memerangi kebodohan.

“Bapak/Ibu setelah bertugas akan diukur seberapa tinggi kecerdasan anak meningkat. Paling tidak, aspek karakternya membaik, pengetahuan membaik, keterampilan juga membaik. Jangan sampai sebelum dan setelah sekolah sama saja,” ungkap Sugiyono.

Keempat, menang tanpa ngasorake. Artinya, guru itu sebenarnya memerangi kebodohan. Terkait bagaimana cara mengajar dengan baik yang membuat murid menjadi senang, bagaimana memberi inspirasi agar anak senang belajar dengan baik.

Kelimapaweweh tanpa kelangan. Pada prinsipnya, guru itu mengajarkan memberi ilmu. Karena itu, jangan pelit kepada murid, apa yang dimiliki diberikan kepada murid-muridnya. Guru akan bangga kalau muridnya menjadi pintar bahkan menjadi lebih pintar dari gurunya.

Selanjutnya, Sugiyono menekankan, guru itu memiliki standar kompetensi, mulai pedagogik hingga profesional. Kompetensi pedagogik maksudnya, terkait cara guru mengajar. Bagaimana seorang guru mengajar yang memberi inspirasi agar murid bisa belajar dengan baik. Untuk itu Sugiyono menyarankan para guru memanfaatkan teknologi informasi dengan baik. Saat ini, belajar tidak harus di dalam kelas, bisa di mana saja. Pembelajaran yang modern memanfaatkan IT untuk pembelajaran.

Sementara itu, terkait kompetensi profesional, dimaksudkan guru perlu menguasai materi yang diajarkan. Jadi ada dua, materi dan cara mengajarkannya.

Ada dua belas guru baru yang hadir saat itu. Mereka adalah para guru yang lulus seleksi penerimaan guru baru yang dilakukan PW Ma’arif NU DI Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta. Para guru baru langsung diserahkan kepada kepala sekolah tempat guru tersebut bertugas.

Guru-guru baru tersebut adalah M. Ari Kunto Wibowo, Arifah, dan Sigit Nurcahyo ditempatkan di SMK Ma’arif 2 Wates. Yeti Nurfendah, Ringan Oktiah, serta Pradnya Paramytha ditempatkan di SMK Ma’arif Nurul Haromain Sentolo. Alifia Ayu Tiastari ditempatkan di SMA Sunan Kalijogo Sleman. Anis Khoerun Nisa ditempatkan di SMK Pembangunan Dlingo. Yanuar Dwi Santoso ditempatkan di SMK Ma’arif Playen Gunungkidul. Rilo Adi Nugraheni ditempatkan di SMK Ma’arif 3 Wates. Yuda Yustiana di SMK Pembangunan Karangmojo Gunungkidul. Terakhir, Shinta Budiarti ditempatkan di SMA Ma’arif 1 Yogya.

Mengingat sekolah-sekolah tempat guru-guru tersebut mengabdi merupakan sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU DI Yogyakarta yang notabene merupakan badan otonom PWNU DI Yogyakarta, para guru diminta untuk memperhatikan ideologi Aswaja yang menjadi ciri khas sekolah-sekolah Ma’arif.

Sekretaris PW Ma’arif NU DI Yogyakarta (tengah) sebagai Ketua Tim seleksi guru LP Ma’arif NU DI Yogyakarta.

Pada akhir sambutannya, Sugiyono menyampaikan bahwa guru yang baik itu adalah guru yang setidaknya sembilan puluh persen hadir dalam pembelajaran di kelas. Jadi, kalau ada guru yang berhalangan mengajar, hendaknya menggantinya pada hari lain sehingga target pertemuan tiap semester tercapai.

Sugiyono juga berharap, para guru membuat sendiri materi pelajaran yang akan diajarkan. Nantinya, materi-materi tersebut bisa dikumpulkan sehingga menjadi buku. Bisa jadi, setelah program penyusunan buku Aswaja selesai, PW Ma’arif akan memfasilitasi penyusunan dan penerbitan buku-buku pelajaran lain.

Acara yang dilangsungkan di Aula PWNU DI Yogyakarta itu dihadiri pula oleh para pembina serta pengurus LP Ma’arif NU DI Yogyakarta. (sab)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here