Home Artikel LP Ma’arif NU PWNU DIY Ikut Serta dalam Sosialisasi Kompetensi Pemustaka dan...

LP Ma’arif NU PWNU DIY Ikut Serta dalam Sosialisasi Kompetensi Pemustaka dan Kecakapan Literasi Informasi Siswa SLTA

33
0

Maarifnudiy.or.id–LP Ma’arif NU PWNU DIY mengikuti kegiatan Sosialisasi Kompetensi Pemustaka dan Kecakapan Literasi Informasi Siswa SLTA, Sabtu (10/10). Kegiatan yang diinisiasi oleh Tim PPM UNY tersebut dilakukan secara daring dan dihadiri lebih dari 100 peserta dari 38 sekolah swasta di DIY. Masing-masing sekolah mengirimkan 3 perwakilannya, yang meliputi Kepala Sekolah, Pustakawan, dan Guru Pendamping.

Dra. Pangesti Wiedarti, M.pl. Ling., Ph.D., Ketua Pusat Kreativitas Literasi dan Pembelajaran Sepanjang Hayat, menyampaikan, “Pada dasarnya, standar ini untuk membantu para siswa agar suatu saat nanti, ketika masuk ke Perguruan Tinggi tidak kesulitan dalam belajar dan lebih mudah dalam mencari perpustakaan.

Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum., Sekretaris LP Ma’arif NU PWNU DIY, yang juga tergabung di dalam tim PPM UNY menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berfokus pada hal yang harus diketahui oleh siswa ketika datang ke perpustakaan. Jadi, Siswa yang datang ke perpustakaan bukan hanya untuk bermain-main dan meminjam buku saja, tetapi mereka mendapatkan arahan juga.

Tadkiroatun pun menyampaikan bahwa pemustaka adalah pengguna atau pemakai perpustakaan, jika konteksnya di sekolah, pemustaka adalah siswa, sifatnya bisa perseorangan bisa juga kelompok, bisa juga masyarakat atau lembaga yang memanfaatkan layanan perpustakaan.

Kemudian, Tadkiroatun menjelaskan, “Standar Kompetensi Pemustaka dibagi menjadi enam bagian, yakni menghargai dan menikmati buku yang dibaca; orientasi perpustakaan sekolah dan pusat sumber belajarnya; pemilihan sumber belajar; pemanfaatan sumber belajar; pemahaman, pembelajaran, dan keterampilan literasi; serta produksi dan presentasi. Ini semua didapatkan dari skill belajar kontinumnya.”

“Dalam Standar Kompetensi Pemustaka, setiap keterampilan dimulai dengan frase student will have opportunities to yang berarti siswa itu memiliki kesempatan untuk apa, yang mengacu pada peninjauan dan penguatan setiap keterampilan yang mungkin diperlukan di tingkat kelas berikutnya,” imbuhnya.

Senada dengan Tadkiroatun, Pangesti mengatakan, “Pemustaka adalah penikmat perpustakaan yang dalam konteks ini adalah siswa, sedangkan pustakawan adalah orang yang bertugas mengurus perpustakaan,”

Selain itu, Pangesti menuturkan, “Literasi adalah kemampuan menulis dan membaca yang selanjutnya dikembangkan menjadi literasi informasi.”

“Dalam kecakapan berliterasi diperlukan logika berpikir kritis, rasa (berempati), dan kepedulian sosial. Semua ini dasarnya dari membaca. Tempatnya bisa di komunitas sekolah, RW, dan sebagainya. Dalam hal ini, tugas Pustakawan membimbing para siswa dengan mengacu pada Standar Kompetensi Pemustaka,” sambungnya.

Pangesti juga menyampaikan bahwa saat ini, Indonesia belum memiliki Standar Kompetensi Pemustaka. Selain itu, literasi informasi yang ada pun masih sangat ringkas. Dua poin inilah yang ingin dikembangkan ke depannya.

Kegiatan ini adalah pembuka bagi kegiatan berikutnya yang akan dilaksanakan pekan depan. Pertemuan selanjutnya akan membahas Standar Kompetensi Pemustaka dan Standar Literasi Informasi lebih dalam melalui FGD. Semua peserta diminta untuk mengerjakan tugas, lima di antaranya akan melakukan presentasi. Selain itu, ada pula yang menyimak dan memberi input pembahasan.

Di akhir acara, pembicara dan seluruh peserta memberikan salam literasi (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here