Home Nasional Direktur PSMK: Pengembangan Karakter Kerja Siswa Ada di Bengkel

Direktur PSMK: Pengembangan Karakter Kerja Siswa Ada di Bengkel

227
0
Dari kiri: Sarwidi, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, dan Atik Sunaryati berdialog dengan Direktur PSMK sambil meninjau pembelajaran SMK Ma'arif 1 Yogyakarta

Yogyakarta, Maarifnudiy.or.id–Pengembangan karakter siswa ada di bengkel. Oleh karena itu, hal utama yang perlu dilakukan di sekolah menengah kejuruan adalah mengembangkan tempat praktik, baik bengkel, laboratorium, atau tempat-tempat lain yang dijadikan sebagai lokasi latihan siswa.

Hal itu disampaikan Dirktur Pembinaan SMK Kemdikbud RI, Dr. Ir. M. Bakrun, M.M., ketika berdialog dengan Pengurus dan Kepala SMK LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Sabtu (28/7). Dialog dilaksanakan di ruang kelas SMK Ma’arif 1 Yogyakarta.

Direktur PSMK saat berdialog dengan siswa di Bengkel SMK Ma’arif 1 Yogyakarta

Pada kesempatan itu, Mantan Kasub Direktorat Kurikulum Direktorat PSMK itu menyampaikan, selain memikirkan masalah ketersediaan fasilitas latihan kerja yang baik, hal lain yang perlu diperhatikan adalah perihal kebijakan pembukaan SMK baru, LPTK pencetak guru, serta pemetaan atas lulusan SMP dan daya tampung sekolah menengah.

Terkait pembukaan SMK baru, Bakrun menyampaikan, banyak yang latah membuka SMK. Pendirian SMK sering tidak melalui analisis kebutuhan. Akibatnya, sekolah-sekolah itu sering tidak dapat bertahan karena tidak mendapatkan siswa.

Hal itu diamini oleh Rahmat Raharja, Kepala SMK Ma’arif 1 Gunungkidul. Menurutnya, di daerahnya ada SMK negeri yang tidak mendapat siswa lagi karena jurusan yang dibuka tidak ada peminatnya. Akibatnya, sekolah tersebut akhirnya membuka jurusan-jurusan baru yang kadang tidak sejalan dengan visi-misi awal pendirian SMK tersebut.

Terkait LTPK pencetak calon guru, Bakrun menyayangkan saat ini IKIP-IKIP sudah berubah menjadi universitas. Ada perbedaan mendasar antara IKIP dan universitas. Di IKIP, civitas akademikanya sedari awal sudah berpikiran untuk melahirkan guru. Sementara itu, di universitas, perhatian para dosen terpecah, antara menghasilkan calon guru dengan menghasilkan sarjana ilmu murni.

Hal tersebut diakui para kepala SMK yang hadir. Saat ini, pada beberapa keahlian, sulit mendapatkan guru. Para sarjana pendidikan banyak yang berharap menjadi PNS. Ketika hal itu tidak memungkinkan, mereka lebih memilih bekerja di industri karena gajinya lebih tinggi dibandingkan mengajar di sekolah.

Sementara itu, terkait pemetaan lulusan dan penerimaan siswa baru, Bakrun berharap, nantinya siswa SMP sederajat itu benar-benar dipetakan dengan baik demikian juga dengan daya tampung sekolah menengah termasuk madrasah dan sekolah swasta. Permasalahan apakah madrasah dan swasa juga akan mengikuti program zonasi dan PPDB online, itu perlu dikaji lagi.

Direktur PSMK berfoto bersama peserta dialog

Sekretaris PW Ma’arif NU DI Yogyakarta, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, menyampaikan terima kasihnya atas kesediaan Direktur PSMK berdialog dengan Pengurus dan para Kepala SMK di lingkungan Ma’arif NU DI Yogyakarta. Dosen Universitas Negeri Yogyakara itu menyampaikan, saat ini beberapa sekolah Ma’arif kondisinya memprihatinkan, baik dari segi fasilitas maupun jumlah siswa.

Kendati demikian, Takdiroatun menyampaikan bahwa peran Ma’arif dalam pendidikan sangat besar. Di sekolah-sekolah Ma’arif, siswa yang sebelumnya tidak sholat jadi sholat, siswa yang ketika diterima nilainya rendah setelah sekolah di Ma’arif menjadi lebih baik. (sab)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here