Home Karya Guru Uniknya Hasad

Uniknya Hasad

1190
0
Sumber: exploreenglishvocabulary.blogspot.com

Oleh Agus Tri Yuniawan

HASAD dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan istilah dengki atau iri hati. Ulama memberi definisi bahwa hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Kita perlu mengerti sifat ini agar kita dapat semakin mengenali diri kita sendiri. Untuk itulah dalam tulisan ini akan disajikan contoh-contoh kecil sebagai gambaran.

Tulisan ini kami beri judul “Uniknya Hasad” karena memang sifat yang satu ini memiliki ciri tersendiri. Ia dapat memberikan rasa puas pada seseorang bahkan ketika seseorang itu tidak mendapatkan manfaat apapun dari sifat ini.

Contoh imajiner misalnya, saya dan Mas Fulan kebetulan sama-sama jatuh cinta dengan satu orang perempuan, sebut saja Si Sri. Maka kami berkompetisi mendapatkannya. Ndilalah sayalah yang memenangkannya. Lalu saya berkata pada Mas Fulan,

“Ini mas, saya kasih uang 10 juta, cari saja wanita lain, anggap aja ini buat sangu nikah sampeyan“.

Mendapat tawaran demikian, belum tentu Mas Fulan mau, bahkan dengan kesatria malah menolaknya. Uang tersebut tidak bisa memberikan kebahagian karena sudah kadung mangkel.

Lain halnya ketika ternyata dalam perjalanan rumah tangga saya dengan Si Sri, ternyata sering bertengkar, dan akhirnya kandas, cerai. Justru mendengar berita yang demikian yang menjadikan rasa puas di hati Mas Fulan, meskipun dia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari peristiwa ini.

Inilah, sisi unik dari sifat ini. Rasulullah pernah bersabda,

“Jauhilah oleh kalian hasad karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud).

Sifat ini pula yang sering melatarbelakangi kegaduhan yang ada di negeri kita tercinta ini. Beredarnya berita-berita hoax, meme-meme hinaan, fitnah dan adu domba, postingan-postingan yang tidak jelas sumbernya, dan lain-lain. Hal ini kami sampaikan dari hasil pengamatan di media sosial khususnya grup WhatsApp.

Berapa banyak saudara-saudara kita yang suka membagikan berita-berita yang kebenarannya masih dipertanyakan. Setelah kami klarifikasi secara personal maka dijawab “cuma share dari grup sebelah, sekedar copas, dan lain-lain”.

Pada era yang apa-apa bisa dilaporkan ke ranah hukum seperti sekarang ini, penting untuk memiliki data valid dalam setiap penyampaian. Jauh sebelum itu, Allah sudah memberikan rambu-rambu,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isra: 36)

Seandainya belum cukup data yang valid pun, namun kita meyakini benarnya suatu berita, cukuplah diri kita dan keluarga kita yang perlu kita jaga.

Agama menumbuhkan rasa cinta. Sebagai muslim, maka kita berharap agar kita semakin suka, semakin cinta kepada Allah. Saya pernah menulis status WA, “tandane seneng kui ora kakeyan nyoal (tanda kalau suka itu adalah tidak banyak mempersoalkan ini itu)”.

Kalau kita semakin suka kepada Allah, kita tidak akan mempersoalkan _”kenapa shalat?, mengapa harus puasa?, ngapain sih bayar zakat segala?”, tapi rasa suka itulah yang menyebabkan kita “sami’na wa atho’na”.

Kalau anak kita berak di ruang tamu, kita biasa saja. Lalu tiba-tiba setelah kita bersihkan, ada berak lagi disitu, dan kita mangkel, karena ternyata yang berak adalah anak tetangga. Kentut pun akan begitu menyengat, bau, dan bikin mual, kalau itu kentutnya orang lain.

Tulisan ini pun bertujuan agar kita semakin mengenali diri kita sendiri. Kita adalah rektor atas semua fakultas di dalam universitas bernama diri kita. Kita menjadi subyek atas sifat-sifat yang ada di dalam diri kita sendiri. Dengan semakin mengenal diri kita sendiri, semoga kita semakin pula mengenal Pencipta kita, sebagaimana ulama pernah berkata,

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Saya punya hasad, pun kita semua juga memilikinya. Dan beberapa contoh tersebut kita dapat mengukur, seberapa kadar hasad dalam diri kita. Hal yang dapat kita lakukan dengan adanya sifat tersebut adalah (1) mendiamkan/menyembunyikannya, (2) minta kepada Allah agar kita dijauhkan dari sifat demikian, (3) berusaha ikhlas dengan takdir yang Allah tetapkan, dan (4) berusaha melakukan setiap hal hanya untuk menggapai ridho Allah.

Dengan demikian, dalam hal share berita pun, kita dapat mengonfirmasi diri kita, apakah ini karena hasad, ataukah memang menyuarakan kebenaran, demi keutuhan NKRI. Nurani kitalah yang menjawabnya. (IND)

Previous articlePendataan Humas SLTA Ma’arif Daerah Istimewa Yogyakarta
Next articlePimpin Apel Peringatan Hari Santri, Bupati Gunungkidul Dorong Masyarakat untuk Mondok
Guru Pendidikan Agama Islam di SLB Bhakti Pertiwi, Prambanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here