Home Wilayah LP Ma’arif NU DI Yogyakarta Gelar Raker Hadapi Revolusi Industri 4.0

LP Ma’arif NU DI Yogyakarta Gelar Raker Hadapi Revolusi Industri 4.0

155
0
Dr. Arif Rohman membuka Raker LP Ma'arif NU DI Yogyakarta (27/1).

Maarifnudiy.or.id–LP Ma’arif NU DI Yogyakarta gelar raker di Nava Hotel Tawangmangu, 27-28 Januari 2019. Tema yang diangkat pada raker kali ini adalah “Strategi Revitalisasi LP Ma’arif NU DI Yogyakarta Menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

“Ada tiga topik utama yang dibahas pada raker kali ini,” demikian diungkapkan Ketua Panitia Raker, Dr. Tadkiroatun Musfiroh. Ketiga topik tersebut meliputi Revitalisasi Ideologi dan Kelembagaan, Pengembangan SDM dan Kepegawaian, serta Inventarisasi dan Manajemen Aset.

Raker dibuka oleh Ketua PWNU DI Yogyakarta yang diwakili Wakil Ketua Bidang Tanfidziyah, Dr. Arif Rohman. Dalam sambutannya, dosen Universitas Negeri Yogyakarta itu menyampaikan bahwa ada empat hal yang perlu diperhatikan sekolah Ma’arif saat ini, yaitu persoalan sumber daya, penguatan lembaga, networking, dan branding.

Menurut Arif, penguatan sumber daya merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan dalam kaitannya dengan program revitalisasi. Oleh karena itu, merupakan hal yang benar jika Ma’arif NU DI Yogyakarta menyelenggarakan Diklat Penguatan Kepala Sekolah, Tes Substansi, hingga Tes Calon Kepala Sekolah. Menurutnya, saat ini di NU, secara spesifik di Ma’arif, terjadi semacam stagnasi kaderisasi.

Penguatan lembaga diwujudkan dalam bentuk pembuatan aturan-aturan. Aturan-aturan itu dipandang penting. Arif mencontohkan, selama ini ada kepala sekolah yang menjabat seumur hidup bahkan ada kepala sekolah yang membuat SK untuk dirinya sendiri.

Terkait networking, Arif berpandangan, di era milenial dan digital ini, networking merupakan keniscayaan. Sekolah-sekolah hendaknya saling terhubung, saling terkait, ada jaringan, ada kerja sama, ada keterkaitan antarlembaga dalam satu rumah bernama Nahdlatul Ulama.

Semua perbaikan yang dilakukan menurut Arif, perlu dikemas dengan baik. Tanpa pengemasan yang baik, tanpa branding, Ma’arif tidak akan memiliki nilai jual yang baik.

Hadir pula pada kesempatan itu Pembina LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Ketua LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Kabid Pendidikan Menengah Dikpora DI Yogyakarta, Kasubdit Kurikulum Direktorat PSMK, serta Rektor UNU Yogyakarta. Dalam sambutannya, Ketua LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Prof. Dr. Sugiyono, menyampaikan bahwa ada empat hal yang perlu diperhatikan Ma’arif dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Keempat hal tersebut meliputi critical thinking, creativity, communication, dan collaboration.

Prof. Dr. Sugiyono memberikan sambutan dalam Pembukaan Raker Ma’arif NU DIY (27/1).

Pertama, critical thingking. Menurut Sugiyono, secara akidah warga Ma’arif memang harus patuh kepada kiai, tetapi secara akademik warga Ma’arif harus bisa berpikir kritis. Saat menerima berita, harus diteliti dengan baik, apakah hoax atau bukan. Para siswa juga perlu berpikir kritis terhadap materi pelajaran yang diberikan guru.

Kedua, creativity. Memiliki kemampuan yang bersifat kreatif dinilai lebih tinggi dibandingkan inovatif. Inovatif mengembangkan yang sudah ada, sementara kreatif menciptakan sesuatu yang baru. SMK paling tinggi nilainya pada aspek inovasi dan aspek kreasi. Sekolah Ma’arif diharapkan tidak lagi hanya sebagai pemakai atau pengguna, tetapi sebagai pencipta produk teknologi yang sesuai.

Ketiga, communication. Komunikasi saat ini tidak terbatas komunikasi yang sifatnya oral. Banyak komunikasi melalui bahasa IT. Komunikasi sudah komunikasi dunia. Dengan adanya teknologi informasi, warga Ma’arif bisa berkomunikasi secara internasional. Di sekolah perlu diintensifkan bagaimana para siswa berkomunikasi dalam bahasa internasional.

Keempat, collaboration atau kerja sama. Para pengelola berhasil, mengelola sekolah melalui kerja sama yang saling menguntungkan. Sekolah-sekolah perlu saling berbagi potensi yang ada.

Untuk mencapai itu semua, perlu dimulai dari rencana-rencana. Kaprodi S2 dan S3 Manajemen UNY itu mengungkapkan, raker merupakan bagian dari rencana tersebut. Dengan adanya rencana, berarti warga Ma’arif telah membuat peta jalan. Menurut penelitian, jika sekolah memiliki rencana, maka efektivitas akan berjalan. Menurut teori, jika tidak memiliki rencana, sama dengan merencanakan kegagalan.

Sementara itu, Kasubdit Kurikulum PSMK, M. Widiyanto, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa SMK saat ini sesungguhnya sudah menerapkan Industri 4.0 yang ditandai dengan pemanfaatan internet dalam berbagai kesempatan. Widiyanto yang hadir mewakili Direktur PSMK itu menyampaikan, wujud penerapan Industri 4.0 terlihat dari pelaksanaan UNBK, penggunaan internet dalam pembelajaran, dan lain-lain. Widiyanto juga menyampaikan, jika pengelola SMK di lingkungan Ma’arif ingin mengakses bantuan, bisa mengajukan bantuan dalam bidang e-commerce, 3D Printing, Robotic, hingga Urban Farming.

Kepala Dinas Dikpora DI Yogyakarta yang diwakili Kabid Pendidikan Menengah menyampaikan bahwa salah satu visi yang ingin dicapai Dinas Dikpora DI Yogyakarta adalah menjadi pendidikan yang terkemuka di Asia Tenggara dengan tidak mengabaikan karakter. Menurutnya, perlu ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mencapai visi tersebut, di antaranya memiliki pedoman yang bisa dilaksanakan bersama-sama seperti yang akan disusun LP Ma’ari NU DI Yogyakarta.

Pada raker kali ini, panitia mengundang 45 orang sebagai tamu undangan, 19 pengurus, dan kepala sekolah serta MKKSM SLTP kota dan kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. (sab)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here