Home Wilayah Sekolah Berperan Penting dalam Pembentukan Budaya Sehat di Masyarakat

Sekolah Berperan Penting dalam Pembentukan Budaya Sehat di Masyarakat

100
0

Yogyakarta, Maarifnudiy.or.id–Untuk menciptakan budaya sehat, yang paling efektif adalah lewat sekolah. Melalui lingkungan masyarakat sulit, kecuali memang ada penggeraknya. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Barir Cahyono pada ToT Kesehatan Sekolah bagi guru-guru pembina UKS pada SMA, SMK, dan MA di lingkungan LP Ma’arif NU DI Yoyakarta (7/3/3019).

Terkait budaya sehat tersebut, Ketua LKNU DIY itu mengungkapkan, harus dimulai dari diri sendiri. “Target utama UKS adalah diri sendiri. Problem yang terjadi, kita sering berbicara tentang orang lain. Padahal, sumber masalahnya itu ada pada diri sendiri,” ungkapnya.

Dosen Universitas Alma Ata itu memberikan contoh sederhana pada kasus membuang sampah. Untuk dapat menciptakan lingkungan yang berbudaya tertib membuang sampah, kita, para guru atau siswa, harus memulainya dari diri sendiri.

Pada kesempatan itu, dr. Barir juga menjelaskan definisi sehat yang ingin dicapai dari hadirnya program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Ada empat aspek yang harus terpenuhi untuk bisa dikatakan sehat, yaitu dari aspek jasmani, rohani, sosial ekonomi, dan budaya.

Sehat jasmani, menurut dr. Barir, dapat dicapai dengan asupan yang dikonsumsi. “Jika makanan tidak sehat, kita akan sakit. Faktor lain adalah air. Tubuh kita 60-70 persen adalah cairan. Kalau kita sering pusing, itu bukan karena kurang makan, tetapi karena kurang cairan,” jelasnya.

Di antara masalah terbesar terkait kesehatan adalah gula. Gula bukan hanya berasal dari makanan dari gula itu sendiri, tetapi juga dari karbohidrat. Sumber karbohidrat terbesar adalah makanan pokok, seperti nasi dan roti. Saat ini, penyakit banyak yang disebabkan oleh gula, seperti diabetes, struk, dan hipertensi. Secara bergurau, dr. Barir menyampaikan bahwa kebanyakan orang meninggal sekarang bukan lagi karena macan atau kecelakaan, tetapi karena gula.

Berikutnya adalah rohani. Aspek ini terkait psikologis seseorang. Stres di rumah dan di lingkungan pekerjaan adalah contoh ketidaksehatan seseorang secara rohani. Ada banyak penyababnya, di antaranya karena suka berpikir negatif.

“Kalau kita berpikir negatif, nanti akan cepat sakit. Contohnya, saat mengikuti kegiatan, kita berpikir pusing dan capek, nanti akan pusing dan capek benaran. Hal berbeda terjadi jika kita berpikir positif,” ungkap dr. Barir.

Menurutnya, hal lain yang membuat pikiran teracuni adalah hoax, fitnah, atau berita bohong. Penyakit ini bahkan sudah menjangkiti para akademisi. dr. Barir bahkan mempertanyakan, sejak kapan hoax ini menjadi konsumsi bahkan–mungkin–melibatkan dunia pendidikan.

Lebih lanjut dr. Barir menjelaskan, akhir-akhir ini WHO menyampaikan satu jenis penyakit baru yang bernama penyakit multimedia atau penyakit dunia maya, contohnya pornografi, game, hingga judi online. Menurutnya, kebanyakan penyakit jenis ini menjangkiti anak-anak SMA dan perguruan tinggi. Penyakit multimedia banyak menjangkiti mereka yang memiliki waktu luang sehingga waktu onlinenya lebih lama.

Peserta ToT Kesehatan Sekolah kerjasama LPM DI Yogyakarta dengan LKNU DI Yogyakarta.

Sementara itu, terkait aspek sosial ekonomi, timbulnya penyakit dikarenakan interaksi antara manusia mulai berkurang. Masyarakat NU masih diuntungkan karena masih relatif rajin melakukan pertemuan pada berbagai kegiatan keagamaan.

Terkait aspek ekonomi, dr. Barir menilai, Lembaga Pendidikan Ma’arif sebenarnya tidak kalah dengan lembaga pendidikan lain, tetapi citra sekolah Maarif masih kurang bagus. Padahal, sesungguhnya secara kualitas tidak kalah. Dengan adanya citra kurang bagus ini, nilai jual sekolah Ma’arif menjadi kurang baik pula.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan sekolah Ma’arif mengolah citra (image). Ketua LKNU DIY itu mencontohkan, terkait citra bersih. Bisa saja sekolah-sekolah Ma’arif menjadikan UKS sebagai benchmarknya, menjadikan UKS sebagai keunggulan. Dengan adanya keunggulan, sekolah-sekolah Ma’arif tidak lagi dinomorduakan atau dinomortigakan.

Ada dua tujuan UKS menurut dr. Barir. Kedua hal tersebut adalah, pertama, meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik serta menciptakan lingkungan sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Kedua, meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan lingkungan masyarakat.

Kedua tujuan itu dapat dicapai melalui Trias UKS, yaitu (1) melaksanakan pendidikan kesehatan di sekolah, (2) menyelenggarakan pelayanan di sekolah, dan (3) menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat.

Menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, menurut dr. Barir, tidak terlepas dari budaya. Saat ini, banyak wisatawan ke luar negeri karena melihat budayanya. Seseorang berwisata ke luar negeri suka dengan kebersihannya, ketertibannya. Sementara di Indonesia, kadang saat kita mau liburan pada musim liburan, di mana-mana ditemukan sampah. Hal ini yang menjadikan nilai jual pariwisata di Indonesia rendah.

Untuk mengubah budaya sehat ini, dr. Barir menegaskan, yang paling efektif adalah lewat sekolah. Melalui masyarakat bisa saja, tetapi diperlukan seorang penggerak. Penggerak ini sulit ditemukan di masyarakat.

Pada ToT tersebut, dr. Barir didampingi oleh Ubaidillah dan Kayyis Alwi. Keduanya berasal dari LKNU DI Yogyakarta. Ubaidillah mengungkapkan, bahwa kesehatan merupakan faktor penting di sekolah. Untuk dapat belajar baik, anak memerlukan kesehatan yang baik pula.

Ketua Panitia ToT sekaligus Pengurus LP Ma’arif NU DI Yogyakarta, Dr. Apri Nuryanto, menyampaikan bahwa kegiatan ToT Kesehatan Sekolah penting dilakukan. Menurutnya, LPM tugaskan fokus kepada peningkatan SDM. Terkait peningkatan SDM itu, ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu pendidikan dan kesehatan.

Dosen Fakultas Teknik UNY tersebut mengungkapkan, saat ini penggarapan di bidang kesehatan cenderung rendah. Padahal, jika kesehatan rendah, pembelajaran tidak akan dapat dilangsungkan secara optimal.

“Jika kesehatan rendah, pembelajaran tidak optimal. Jika UKS dihidupkan, sekaligus juga menjadi nilai tambah bagi sekolah-sekolah Ma’arif. Kualitas output diharapkan akan meningkat. Dengan adanya peningkatan ouptut ini, juga akan berpengaruh kepada input (siswa baru) di lingkungan sekolah Ma’arif,” jelas Apri.

Kegiatan yang merupakan kerjasama antara LP Ma’arif NU DI Yogyakarta dengan LKNU DI Yogyakarta ini dilangsungkan selama satu hari dan bertempat di Kantor PWNU DIY, Jalan M.T. Haryono No. 36-42 Yogyakarta. Peserta yang hadir terdiri atas para pembina UKS dari 23 SMA, SMK, dan MA Ma’arif di DI Yogyakarta. (sab)

Download materi
dr. Barir Cahyono, S.T., M.M.
Ubaidillah, S.Pd.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here